<< July 2017 >> 
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
       1  2
  3  4  5  6  7  8  9
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      

Link

Visitors Counter

20770
TodayToday12
YesterdayYesterday26
This WeekThis Week145
This MonthThis Month517
All DaysAll Days20770

JAKARTA - Saat ini bangsa Indonesia dinilai telah kehilangan kewibawaan. Akibatnya, banyak kepentingan asing masuk mempengaruhi kebijakan negara dari segi ekonomi, politik, budaya, bahkan kedaulatan NKRI.

"Bukan hanya itu, pemimpin pun tidak ada wibawanya lagi bagi rakyatnya. Presiden kita saja sudah menjadi objek hujatan dan cemoohan. Tokoh ulama, tokoh masyarakat, juga tdk lagi dipandang oleh pengikutnya," kata Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Ahmad Doli Kurnia dalam rilisnya kepada okezone, Minggu (12/6/2011).



Menurutnya, kewibawaan hukum saat ini berada di titik nol. Sehingga, rakyat sulit membedakan membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tak ayal ini membuat keputusan hukum tidak dapat dieksekusi.

"Mereka yang bekerja di lingkungan penegak hukum, termasuk di lingkungan kekuasaan, baik eksekutif maupun legislatif justru kerap menafsirkan sendiri nilai kebenaran dan keadilan berdasarkan seleranya," papar dia.

Seiring dengan itu, KNPI berharap seluruh elemen bangsa dapat mengembalikan Pancasila kepada filosofi kehidupan masyarakat. Pancasila, kata Doli, harus menjadi sumber dari segala sumber hukum Indonesia.

"Saya mengimbau agar pemerintah dan pemimpin kita bisa tegas serta menghormati setiap keputusan hukum, termasuk keputusan tentang keabsahan KNPI di bawah saudara Doli,” tegasnya.

Sebelumnya, Ketua DPR Marzuki Alie saat membuka Rakernas II KNPI berpesan agar para pemuda harus mengambil peran strategis untuk menyambut regenerasi kepemimpinan ke depan.

Disamping itu, Marzuki mengimbau KNPI untuk turut memberantas penyakit-penyakit yang berkembang saat ini di masyarakat, khususnya dalam tubuh Ormas dan OKP.
"Saya prihatin dengan maraknya politik uang di Indonesia saat ini. KNPI dan pemuda harus di depan melawan itu," ujar dia.

 

Berita Nasional

ANTARA News - Berita Terkini